Sabtu, 27 Juni 2015

Sejarah Asal Mula Bangsa Aceh

 Sejarah Asal Mula Bangsa Aceh


Konon keturunan bangsa Aceh adalah dari tanah Persia. Seperti kita sering dengar kepanjangan ACEH sebagai Arab, China, Eropa, dan Hindustan (India). Namun sampai sekarang jarang para sarjana yang mengangkat kisah seperti ini. Hanya Affan Jamuda dan A.B. Lila Wangsa yang menulis “Peungajaran Peuturi Droe Keudroe (Pelajaran mengenal diri sendiri)” menyebutkan: Wangsa Acheh saboh wangsa nyang jak meunanggroe rot blah barat pulo Ruja. Wangsa nyan asai phon nibak wangsa Achemenia, Wangsa Achemenia nyang asai jih phon bah binak buket Kaukasus di Europa teungoh. Wangsa Achemenia nyang hudep bak thon 2500 GM (gohlom masehi). Wangsa Achemenia saboh wangsa nyang harok meurantoe, sampoe wangsa nyang meusipreuk bansaboh Asia, Afrika, Europa ngon pulo Ruja. Nyang saboh turonan neuweh u tanoh Parsi jeut keuwangsa Parsia, nyang sabih suke neuweh u pulo Ruja, dudoe teuma jeut keu-wangsa Acheh.Wangsa Acheh asai phon nibak wangsa Achemenia-Parsia-Acheh, Affan Jamuda and AB. Lila Wangsa, Peungajaran Peuturi Droe Keudroe (Pidie: Angkasa Muda, 2000).

Terjemahannya; Bangsa Aceh adalah satu bangsa yang membangun negeri di sebelah barat Pulau Ruja (Sumatera). Bangsa ini asalnya dari bangsa Achemenia, bangsa Achemenis berasal dari sebuah bukit Kaukasus di Eropa Tengah. Bangsa Achemenia hidup sekitar 2500 Tahun sebelum Masehi. Bangsa Achemenia satu bangsa yang suka merantau, sampai bangsa ini tersebar di seluruh Asia, Afrika, Eropa dan juga Pulau Ruja. Satu keturunan pindah ke tanah Persia, kemudian menjadi bangsa Persia, yang satu suku lagi pindah ke Pulau Ruja, kemudian lahir bangsa Aceh. Bangsa Aceh pertama sekali berasal dari bangsa Achemenia-Parsia-Acheh). Tentu saja itu bukan sebuah kebetulan, jika kemudian kita temukan akar sejarah migrasi manusia dari Persia, bahkan sebelum Raja Darius (521-486 Sebelum Masehi) yang menguasai Persia, konon beragama Zoroasther. Raja ini menyebarkan sayap pemerintahannya sampai Eropa, Anatolia, Mesir, Mesopotamia, dan India Barat.
Dalam buku A History of World Societies disebutkan bahwa: “They had created “world empire” encompassing of the oldest and most honored kingdoms and peoples of the ancient Near East.” Jadi, ada benarnya bahwa penggalan lagu Rafly di atas, yaitu “Beek tabeoh kada wangsa meutuwah; turounan meugah meuri-ri wangsa; khujja ngoen majja lakap geupajah; turoenan meugah dorius raja”. Sampai sekarang, bukti sejarah ini memang masih mengundang sejumlah tanda tanya. Sebab, di dalam sejarah, selalu disebutkan nama Parsia di dalam sejarah Aceh, namun jarang yang bisa menarik kembali kemana arah sejarah Aceh sebelum Masehi atau sebelum Islâm datang ke daerah ini. Pada masa Darius dan anaknya Xerxes (486-464 Sebelum Masehi), mereka telah membangun suatu monarki kekuasaan, yang ternyata telah disebutkan sebagai “world empire” (kerajaan dunia) hingga menjadi cikal bakal beberapa kerajaan di Timur Tengah.
“
Kemudian Jamuda dan Lilawangsa menulis: hon teuka di tanoh Parsi (Iran-Irak jinoe). Sabab musabab neueuka sampoe roh neumeunanggroe lam pulo ruja. Bak zameun Raja Dorius neumat keurajeun di Parsia, lam masa nyang kuasa keurajeun Raja Dorius luah lagoina mulai di Meuser troh u Hindi ngan lam pula Ruja. Lam masa nyan keu wangsa-ureung bako-bako di nanggroe Parsia neujak duek u nanggroe blah barat pulo Ruja nyang dudoe neulakap Nanggroe Aceh. Yoh goh nyang lam tanoh Acheh kana Aulia-Aulia Allah, nyang sahe naggroe Acheh milek harta Aulia-Aulia Allah (Bangsa Persia sebelum menjadi bangsa Aceh, pertama kali datang di tanoh Parsia (Iran-Irak sekarang). Sebab datangsampai membangun negeri di Pulau Ruja. Pada masa zaman Raja Darius memegang tampuk kekuasaan di Persia, pada waktu itu wilayah kekuasaan Raja Darius sangatlah luas sekali mulai dari Mesir hingga ke India sampai ke Pulau Ruja.
“
Pada zaman itu berbagai bangsa di negeri Persia berangkat menetap di sebelah Barat Pulau Ruja kemudian diberinama Nanggroe Aceh. Sebelum itu di tanah Aceh sudah ada wali-wali Allah, yang jaga negeri Aceh milik harta-harta Aulia Allah). Jadi, dapat dipastikan bahwa asal usul indatu orang Aceh adalah dari Parsia yang datang ke Pulau Ruja, sebuah pulau yang kemudian diberi nama Aceh. Namun yang menarik adalah jika benar pada zaman Raja Darius yang beragama Zoroasther sudah ada Wali-Wali Allah di Aceh, maka pertanyaannya adalah apa benar sudah ada agama yang menyembah Allah sebelum Masehi. Sebab ungkapan bahwa Aceh milik atau tanah para Wali juga ditemukan dalam ungkapan lagu Rafly berikut, Han geu meu kafe ureung Aceh nyang/ ’Saweub bumoe nyang tanoh Aulia/ Geutem sut nyawong peudong kheun Allah/ Kameunan reusam geutung pusaka… (Tidak akan menjadi Kafir orang Aceh itu/Sebab bumi ini adalah tanah Aulia/ Rela mengeluarkan nyawa untuk mempertahankan kalimah Allah/ Begitu adat yang diambil sebagai pusaka). Sayangnya semua sejarah itu masih berupa catatan perang. Kegemilangan Aceh sebagai salah satu kerajaan besar hanya cerita manis.
‘
Ada yang menarik tentang Aceh, yakni simbol agama yang dikekalkan dalam suasana dayah, sebagai pusat sumber ilmu agama Islam tempoe doeloe. Ketika Aceh hendak dijajah, semua suku dan ulama di Aceh sepakat melawan penjajahan. Karena itu, konsep kebencian orang Aceh terhadap penjajahan, bukan karena kebencian etnisitas atau sejarah, tetapi karena melawan penindasan atau penjajahan merupakan jihad. Hal itu dibuktikan oleh Tgk Chik Pantee Kulu dengan karyanya kitab Hikayat Prang Sabi yaitu membakar semangat orang Aceh melawan penjajah dengan ideologi agama.
Dalam konteks etnis, orang Aceh adalah orang yang berjiwa kosmopolitan alias bisa menerima siapa saja atau suku bangsa apapun. Untuk mengelompokkan etnisitas, sistem kerajaan Aceh menyusun kependudukan berdasarkan negeri asal suku bangsa tersebut, sebagaimana dilukiskan dalam hadih maja “Sukee lhee reuthoh bak aneuk drang, Sukee ja sandang jeura haleuba, Sukee tok bate na bacut bacut, Sukee imuem peut yang gok-gok donya”. Sukee di sini dalam kata lain artinya suku sehingga hadih maja ini menggambarkan keragaman suku bangsa di dunia yang berdomisili di Aceh. Semuanya berhasil disatukan oleh sultan Alaidin Riayatsyah Al Qahhar (1537-1565) di bawah panji Islam dan terayomi di bawah payung kerajaan Aceh Darussalam.
“
Mengenai asal usul masyarakat Aceh, HM. Zainuddin (1961), mengatakan bahwa orang dari suku Batak/Karee membentuk kaum Lhee Reutoih. Orang asing lainnya seperti Arab, Persia, Turki, Keling (dagang), Melayu semenanjung, Bugis membentuk kaum Tok Batee Sultan berasal dari kaum Tok Batee. Kaum percampuran dari Hindu dan Batak Karee membentuk group baru menjadi kaum Ja Sandang. Pimpinannya diberi gelar dengan panglima kaum dengan gelar kaum imeum peut. Sedangkan orang Gayo, sebagaimana dikutip Gerini (HM. Zainuddin, 1961) menghubungkannya dengan Dagroian sesuai dengan catatan- catatan Marcopolo. Menurutnya, Dagroian berasal dari kata-kata drang – gayu, yang berarti orang Gayo. Masyarakat tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Perubahan itu bisa saja berpunca di dalam masyarakat itu sendiri atau bersumber dari luar lingkungan masyarakat yang bersangkutan. Aceh mempunyai comparative advantage karena menjadi pusaran dunia, transit pertama sebelum ke bagian Nusantara.
“
Terakhir, saya ingin menegaskan bahwa dalam sejarah kebudayaan Aceh, persoalan bersatu dan berpisah adalah hal yang sangat biasa. Artinya, mereka bisa bersatu dengan kelompok manapun,namun budaya yang sudah mengakar yang dibalut dengan kualitas tradisi Islam tidak akan pernah dapat dihentikan. Jiwa nasionalisme orang Aceh yang menjadi bagian dari Indonesia merupakan satu nafas dalam perjuangan mereka, sejauh itu tidak dikhianati. Adapun nasionalisme di Indonesia walaupun masih didominasi oleh pemahaman kebudayaan Jawa, agaknya memang telah mewariskan persoalan sejarah yang tercecer. Artinya, sejarah nasionalisme di Indonesia adalah sejarah yang dikendalikan oleh pemerintah. Sehingga dinamika kebudayaan di daerah dianggap sebagai ‘aset’ bukan pelaku utama, untuk tidak mengatakan mereka tidak memberikan arti yang signifikan. Hal ini belum lagi dimana ‘aset’ budaya Indonesia cenderung dijadikan sebagai objek untuk kepentingan sosial politik, bukan kepentingan kebudayaan bangsa Indonesia.

Jejak Sejarah Aceh di Kota Salem Amerika Serikat (1653 M)

Jejak Sejarah Aceh di Kota Salem
Amerika Serikat (1653 M)


"...Seperti tersembunyi dibalik debu sejarah, tidak banyak yang tahu bahwa Aceh dan Kota Salem, Massachusetts, Amerika Serikat mempunyai hubungan yang sangat erat di masa lampau..."

Oleh Abdul Razak M.H. Pulo (*


Terkhusus dalam hal perdagangan lada. Sanking eratnya, hingga logo Kota Salem pun menggunakan simbol-simbol Aceh. Benarlah Aceh punya sejarah gilang gemilang di masa lalu.
Berawal dari sebuah tag di Facebook oleh teman saya, Safar Manaf, saya tertarik menelusuri lebih lanjut bagaimana hubungan antara Aceh dengan Salem. Atau lebih layak dikatakan hubungan Aceh dengan Amerika Serikat pada waktu itu, mengingat hal-hal yang terjadi di kemudian hari melibatkan Pemerintah Amerika Serikat dibawah pimpinan Presiden Jackson.
Safar Manaf dalam blognya menulis secara singkat mengenai sejarah Kota Salem. Uraian sejarah tersebut bisa diakses dengan mengklik tab “City Seal” (lambang kota) - *disni] pada website kota Salem. Berikut adalah terjemahan versi Safar Manaf terhadap teks tersebut:
“Pada tahun 1654 (Masa pemerintahan Sultanah Safiatu'ddin), Elihu Yale mengirim dua karyawannya ke Atjeh, kerajaan merdeka termegah di Sumatera, untuk menjalankan perdagangan lada. Muatan lada terakhir memasuki Salem, Massachusetts dari Sumatera pada 6 November 1846 (Masa pemerintahan Sultan Sulaiman Syah), diangkut oleh kapal Lucilla. Salem telah memegang peranan utama dalam perdagangan lada sejak Pemimpin Salem memulai bisnis ini. Begitu pentingnya posisi Salem saat itu, seratus tahun (se-abad) kemudian, orang-orang di Australia masih menyebut biji merica dengan panggilan “lada Salem”.


Lambang Kota Salem, Massachusetts
Kenyataannya, Jika kita menelisik kembali lambang kota Salem, kita akan menemukan gambaran seorang Atjeh.

Pada puncak perdagangan lada, Dewan Kota memerintahkan untuk menciptakan sebuah segel yang menggambarkan “Sebuah kapal yang sedang berlayar, mendekati pantai yang digambarkan dengan seseorang yang berdiri di antara pepohonan di mana kostumnya menunjukkan wilayah tersebut adalah bagian dari Hindia Timur", motto ‘Divitis Indiae usque ad ultimum sinum’ … yang berarti “Menuju pelabuhan terjauh di Timur yang kaya…”


George Peabody, anak dari pedagang lada yang disegani, dan dia sendiri juga memiliki kapal pengangkut lada, melukis desain seorang pria memakai serban merah rata, celana panjang merah dan ikat pinggang merah, jubah kuning sebatas lutut dan baju luar warna biru. Tidak ada masyarakat lain di Hindia Timur yang memiliki pakaian semirip ini yang lebih mendekati selain masyarakat Atjeh, dan mungkin itulah maksudnya.
Hanya dokumen resmi kota Salem yang dibenarkan memakai Lambang kota tersebut. Adalah termasuk pelanggaran hukum Negara dan Peraturan Lokal, jika memakai lambang ini pada hal-hal yang tidak berhubungan dengan urusan resmi Kota Salem. Pegawai Kota adalah penjaga Emblem Kota.
Perdagangan, bisnis, di manapun dan kapanpun ternyata menyimpan intrik-intrik yang bisa menghancurkan hubungan yang terbina baik sejak lama. Keinginan untuk mengeruk keuntungan pribadi dan politik dagang telah membuat hubungan Aceh dan Amerika Serikat retak.

Salem Harbor, oil on canvas, Fitz Hugh Lane, 1853.Museum of Fine Arts, Boston. 
Aceh pernah digempur Amerika Serikat akibat politik dagang dan provokasi Belanda. Pelabuhan Kuala Batu di Susoh, Aceh Selatan rata dengan tanah. Menurut M Nur El Ibrahimy dalam buku Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh, setiap tahun diangkut sekitar 42.000 pikul atau sekitar 3.000 ton. Pusat perdagangan itu di Pelabuhan Kuala Batu, Susoh.
Dudley L. Pickman (1779–1846)
Sejak tahun 1829, karena harga lada di pasaran internasional merosot, jumlah kapal Amerika yang datang ke pelabuhan Aceh mulai menurun. Di antara kapal yang datang dalam masa kemerosotan ekonomi itu adalah kapal Friendship milik Silsbee, Pickman, dan Stone di bawah pimpinan nakhoda Charles Moore Endicot, seorang mualim yang sering membawa kapalnya ke Aceh.
Pada 7 Februari 1831 kapal Friendship milik Silsbee, Pickman, dan Stone di bawah pimpinan nakhoda Charles Moore Endicot, seorang mualim yang sering membawa kapalnya ke Aceh, berlabuh di pelabuhan Kuala Batu, Aceh Selatan.

Ketika Endicot dan anak huahnya berada di daratan, tiba-tiba kapal tersebut dibajak oleh sekelompok penduduk Kuala Batu. Akan tetapi, dapat dirampas kembali oleh kapal-kapal Amerika yang kebetulan saat itu berada di perairan Kuala dengan kerugian sebesar US $ 50.000 dan tiga anak buahnya terbunuh.
Peristiwa itu kemudian menimbulkan sejumlah tanda tanya. Pasalnya, selama setengah abad menjalin hubungan dagang belum pernah terjadi perompakan seperti itu. Menurut M Nur El Ibrahimy, ada beberapa penyebab terjadinya peristiwa tersebut.

Pertama, peristiwa itu dipicu oleh kekecewaan orang Aceh yang selalu ditipu oleh Amerika dalam perdagangan lada.

Itu hanya satu faktor. Penyebab lain, Belanda berhasil memprovokasi orang Aceh untuk menyerang kapal-kapal Amerika. Tujuannya, Belanda ingin merusak nama baik Kerajaan Aceh sehingga terkesan tidak mampu melindungi kapal asing yang berlabuh di Aceh.
Andrew Jackson for President U.S in 1822
Tentu saja Kerajaan Aceh sibuk memberi klarifikasi. Belakangan, diketahui Belanda yang membayar dan mempersenjatai kapal Aceh yang dinakhodai Lahuda Langkap untuk menyerang kapal Amerika dengan menggunakan bendera Kerajaan Aceh.

Kejadian ini membuat kerugian besar di pihak Amerika Serikat dan beberap kru kapal tewas di tangan perompak. Hal ini menyebabkan kemarahan besar di pihak Amerika.

Senator Nathanian Silsbee, salah seorang pemilik kapal Friendship dan Partai Whip (Partai Republiken) yang beroposisi terhadap pemerintahan Presiden Jackson, sekaligus seorang politikus yang sangat berpengaruh pada masa itu, langsung menyurati Presiden Jackson pada tanggal 20 Juli 1831.
Subuh 6 Februari 1832, sebanyak 260 orang marinir Amerika di bawah pimpinan Shubrick, komandan kapal perang terbaik Amerika saat itu, Potomac, membumihanguskan pelabuhan Kuala Batee, Susoh, Aceh Barat dibawah perintah langsung Presiden Amerika Serikat, Andrew Jackson.
Bagaimanapun, hubungan Kerajaan Aceh dengan Amerika Serikat sudah terbina sejak lama. Dan bukti nyata hubungan tersebut terpatri dalam logo Kota Salem, Massachusetts. Akankah sejarah kejayaan “lada” Aceh kembali terulang? (*/tgj.co.id)
Penulis seorang dokter asal Aceh, FK Unsri, Palembang.

"Makam Syahid Lapan Sebuah Kebisuan Sejarah Aceh dI Batee iliek".



Benteng Kuta Gle Batee Iliek menyisakan sejarah heroisme dan pengkhianatan. Kini terbengkalai di ujung timur jembatan Krueng Batee Iliek. Jauh lebih timur lagi delapan syuhada (syahid lapan) dimakamkan.


Monumen benteng Kuta Gle dibangun untuk mengenang para syuhada yang tewas mempertahankan kerajaan Aceh terhadap agresi Belanda. Monumen itu menyimpan secuil kisah tentang keheroikan pejuang Aceh.

Pada masa pergolakan perang melawan Belanda di Batee Iliek terkenal seorang pemimpin pejuang Aceh, Panglima Said yang memimpin perjuangan melawan Belanda di Kuta Gle, Batee Iliek.

Selama 23 tahun benteng Kuta Gle sangat sulit ditaklukkan Belanda, walau mereka dilengkapi persenjataan lengkap. Strategi yang digunakan Panglima Said cukup unik. Pasukan Belanda yang mencoba naik ke bukit Kuta Gle dibiarkan saja. Tapi ketika sebagian besar pasukan Belanda sedang mendaki, pasukan Panglima Said menggulingkan potongan batang kelapa yang telah duluan dipersiapkan dari atas bukit. Akibatnya batang kelapa itu menimpa pasukan Belanda dan mereka terjungkal ke sungai hingga tewas.

Benteng Kuta Gle baru bisa ditaklukkan pada tahun 1901. Seorang “Cuak” bernama panggilan Abu Pang. Ia berkhianat dengan membawa pasukan Belanda melalui jalan lain untuk menyerang benteng Kuta Gle. Oleh Belanda Abu Pang dimasukkan ke dalam sebuah guci agar tidak terlihat warga. Karena pengkhianatan itulah benteng Kuta Glee takluk dan dikuasai Belanda. Panglima Said sendiri waktu itu tewas di tempat bersama sebagian besar pejuang akibat pengkhianatan Abua Pang.

Mengenang peristiwa tersebut, sebuah monumen dibangun di kaki bukit Kuta Gle, tepatnya di ujung timur Jembatan Batee Iliek. Monumen itu kini menjadi tonggak sunyi ditengah keramaian wisatawan lokal yang mengunjungi areal wisata Krueng Batee Iliek setiap harinya. Jarang yang tahu bahwa di tempat rekreasi itu pernah terjadi sebuah pergoalkan besar melawan Belanda yang puluhan tahun berusaha menaklukkannya.

Syahid Lapan

Tak jauh dari Kuta Gle, sekitar beberapa belas kilometer ke arah timur. sebuah situs sejarah perjuangan melawan Belanda juga terdapat di Desa Tambue Kecamatan Simpang Mamplam Kabupaten Bireuen. Situs tersebut berupa makam delapan pejuang yang dinamai Syahid Lapan.

Dinamakan makam Syahid Lapan, karena di situ dimakamkan delapan pejuang yang gugur melawan Belanda. Mereka adalah Tgk Panglima Prang Rayeuk Jurong Binje, Tgk Muda Lem Mamplam, Tgk Nyak Balee Ishak Blang Mane, Tgk Meureudu Tambue, Tgk Balee Tambue, Apa Syehk Lancok Mamplam, Muhammad Sabi Blang Mane, dan Nyak Ben Matang Salem Blang Teumulek.

Kisah keheroikan para Syuhada Lapan sangat jelas tertulis pada dinding makam. Peristiwa heroik itu terjadi pada awal tahun 1902, para Syuhada Lapan menghadang pasukan marsose. Pasukan pribumi binaan Belanda itu berjumlah 24 orang. Mereka semuanya bersenjata api. Sedangkan pasukan delapan pejuang Aceh tersebut hanya bersenjatakan pedang. Tapi berkat semangat juang yang tinggi, mereka berhasil menewaskan semua marsose tersebut.

Setelah pasukan Lapan berhasil melumpuhkan semua serdadu marsose, lalu mereka mengumpulkan senjata milik penjajah tersebut. Mereka larut dalam euphoria kemenangan. Tanpa mereka sadari tiba-tiba sejumlah serdadu marsose lain datang dari arah Jeunieb memberi bantuan. Kedelapan pejuang itu diserang secara membabi buta dan gugur bersimbah darah.

Jasad para syuhada tersebut kemudian dikebumikan dalam satu liang. Sebab serdadu marsose mencincang-cincang bagian tubuh para pejuang tersebut dengan pedang milik mereka sendiri.

Kini, saban hari makam Syuhada Lapan banyak didatangi orang yang ingin bernazar. Bukan hanya dari Kabupaten Bireuen, tapi juga dari daerah lainnya di luar Kabupaten Bireuen. Setiap hari libur ada saja yang datang untuk melepas nazar, seperi menyembelih sapi atau kambing di Makam itu.

Para pengguna jalan juga selalu berhenti sebentar begitu tiba di depan kuburan Syuhada Lapan untuk memberi sumbangan. Di depan makam memang telah disediakan celengan beton berbentuk miniatur rumah. Konon kabarnya, apabila para pengguna jalan tidak berhenti dan memberi sedekah jika melewati makam tersebut, maka akan mengalami hambatan di perjalanan.

Yang agak unik makam Syuhada Lapan dinaungi sebatang pohon yang rindang, yakni pohon Sala Teungeut. Dinamakan pohom sala teungeut, karena sekitar pukul 18.00 WIB daun-daun pohon itu menguncup dengan sendirinya, seiring senja datang dan kembali mekar keesokan harinya. Pohon itu tiga tahun lebih muda dari usia makam Syuhada Lapan, sampai sekarang masih tetap kokoh dan kuat.

Heroisme Melawan Belanda

Heroisme perang melawan Belanda terjadi di seluruh Aceh. Namun beragam peritiwa sejarah tersebut seolah terlupakan. Perlawanan rakyat Aceh dimulai setelah Belanda menguasai pusat Kerjaaan Aceh (Dalam) pada 31 Januari 1874. Setelah agresi Belanda pada maret 1973 gagal total dengan tewasnya Jendral JHR Kohler di depan Mesjid Raya Baiturrahman.

Setelah menguasai Dalam, pihak Belanda melalui Letnan Jenderal van Swieten mengeluarkan proklamasi bahwa Pemerintah Hindia Belanda telah menggantikan kedudukan Sultan dan menempatkan Daerah Aceh Besar menjadi milik Pemerintah Hindia Belanda. Pihak Belanda berusaha agar daerah-daerah di luar Aceh Besar mengakui kedaulatan Pemerintah Hindia Belanda, dan jika tidak dapat dengan jalan damai, akan dilakukan dengan kekerasan.

Pihak Belanda menyangka dengan menduduki Dalam dan sebagian kecil daerah Aceh Besar serta dengan sebuah proklamasi, dapat membuat daerah Aceh lainnya takluk kepada Belanda. Kenyataannya, perlawanan pihak Aceh semakin berkobar.

Meskipun van Swieten telah memproklamasikan bahwa Pemerintah Hindia Belanda menggantikan kedudukan Sultan, pihak Aceh tetap mengangkat pengganti Sultan Alaiddin Mahmud Syah yang telah mangkat dengan Tuanku Muhammad Daud bergelar Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah (putra Tuanku Zainal Abidin bin Sultan Alaiddin Ibrahim Mansyur Syah).

Perlawanan pihak Aceh terus berlanjut hingga menjelang awal kedatangan Jepang (1942). Perlawanan tersebut dipimpin oleh ulama dan uleebalang serta disemangati oleh pengaruh syair-syair yang heroik dari penyair yang membangkitkan semangat dan antipati terhadap Belanda yang disebut sebagai kafir yang harus dilawan.

Syair-syair tersebut, di antaranya Hikayat Prang Sabi (Teungku Chik Pante Kulu), Hikayat Prang Kompeni (Do Karim/Abdul Karim), dan sebagainya. Antipati juga disebabkan oleh pihak Belanda yang tidak memperbolehkan rakyat Aceh untuk mengibarkan Bendera Alam Peudeueng dan harus mengibarkan Bendera Belanda.

Perlawanan rakyat Aceh dalam Perang Aceh sepanjang sejarah yang disebutkan di atas, melahirkan banyak catatan-catatan. Jenderal GP. Booms dalam bukunya De Erste Atjeh Expediti en Hare Enquete (Zentgraaf, 1938) menulis: “Blijkbaar rekende men dus op een gemakkelijke overwinning. De feiten, een jarenlange ervaring, hebben echtar getoond, dat men te maken had men telrijken, energieken vijand,… met een volk van een ongekende doodsveracting,dat zich onverwinbaar achtte… die ervaring leert in een woord, dat wij niet gestaan hebben tegenover een machteloozen sultan wiens rijk met den valvan zijn Kraton zou ineenstorten maar tegenover een volksoorlong, die behalve over al de materieele middelen vaqn het land, over geweldige moreele krachten van fanatisme of patriotisme beschikte..”

(“telah diperkirakan suatu kemenangan yang akan diperoleh dengan mudah. Akan tetapi, pengalaman bertahun-tahun lamanya memberikan petunjuk, bahwa yang dihadapi itu adalah musuh dalam jumlah besar yang sangat gesit, … suatu bangsa yang tidak gentar menghadapi maut, yang menganggap ia tidak dapat dikalahkan… Pengalaman itu memberi pelajaran, bahwa kita tidak dapat menghadapi seorang Sultan, yang kesultanannya akan berubah dengan jatuhnya Kraton, akan tetapi kita menghadapi rakyat yang menentukan harta-benda negara, memilki tenaga-tenaga moril, seperti cinta tanah air”).

Dalam sidang Parlemen Belanda pada 15 Mei 1877, Menteri Urusan Koloni Belanda memberikan jawaban atas interpelasi yang menyoalkan kegagalan Belanda itu, “Wij hebben te trotseeren gehad een ongekande doodsveracthing, een volk dat zich onverwinbaar achtte” (“Kita telah menghadapi maut, bangsa yang menganggap ia tidak sedikit pun gentar menghadapi maut, bangsa yang menganggap ia tidak mugkin dapat dikalahkan”).

Kegagalan Belanda itu terus saja dibicarakan, sampai Belanda pun menaruh hormat atas keberanian pejuang Aceh (baik pria maupun wanita). Rasa hormat itu sebagaimana diungkapkan Zentgraaff dalam bukunya Atjeh, yang menulis: “De Atjehschevrouw, fier en depper, was de verpersoonlijking van den bittersten haat jegens ons, en van de uiterste onverzoenlijkheid an als zij medestreed, dan deed zij dit met een energie en doodsverachting welke veelal die der mennen overtroffen. Zij was de draagster van een haat die brandde tot den rand van het graf en nog in het aangezicht van den dood spuwde zij hem, den kaphe in het gezicht”

(“Wanita Aceh gagah dan berani mereka pendukung yang tidak mungkin didamaikan, terhadap kita dan bila ia turut serta bertempur, dilakukannya dengan gigih dan mengagumkan, bersikap tidak takut mati yang melebihi kaum pria. Ia mempunyai rasa benci yang menyala-nyala sampai liang kubur dan sampai saat menghadapi maut, ia masih mampu mendahului muka si kaphe”).

Perang antara pihak Belanda dan pihak Aceh yang dikenal dengan Perang Aceh melahirkan pengakuan pihak Belanda. G.B. Hooyer (1897) menulis: “Geen benden van Diepo Negoro of Sentot, geen dweepzieke Padri’s, geen scharen Balineezen of ruitmassa’s der Bonieren ontwikkelden ooit zooveel dapperheid en doodsverachting in het gevecht, zooveel stoutheid bij den aanval, zooveel vertrouwen op eigen kracht, zooveel taaiheid in tegenspoed, als die door den vrijheidlievenden, fanatieken, voor den guerilla-krijg als geschapen Atjeher werden betoond. Daarom zal de Atjeh-oorlog steeds een leerschool blijven voor ons leger, …”

(“Tidak ada pasukan Diponogoro atau Sentot (Ali Basyah Prawiro Dirjo), tidak ada pasukan Padri yang sedemikian fanatiknya, tidak ada pasukan Bali atau pasukan berkuda orang Bone yang telah memperlihatkan keberanian dhttp://www.blogger.com/img/blank.gifan tidak gentar menghadapi maut di dalam pertempuran-pertempuran, disertai dengan kenakalan-kenakalan pada penyerangan, demikian penuh kepercayaan pada kekuatan sendiri, begitu gigih di dalam menghadang lawan, seperti yang diperlihatkan oleh orang Aceh yang cinta kemerdekaan, fanatik dan laksana dilahirkan untuk bergerilya. Karenanya, perang Aceh akan selalu merupakan sekolah tempat belajar untuk tentara kita, …”).

Zentgraaf, menutup dengan kalimat: “Cemme ils tombent bien…. en is er een volk op deze aarde dat de ondergang dezer heroike figuren niet met diepe vereering zou schrijven in het ziyner historie?” (… dan adakah suatu bangsa di bumi ini yang tidak akan menulis tentang gugurnya para tokoh heroik ini dengan rasa penghargaan yang sedemikian tingginya di dalam buku sejarahnya?”).
26 September 2012 pukul 13:03Publik

Gua di Aceh Ungkap Sejarah Tsunami Purbakala

             Gua di Aceh Ungkap Sejarah Tsunami Purbakala

Analisis radiokarbon dari materi-materi di dalam gua, termasuk kulit kerang dan sisa-sisa organisme mikroskopis, memberikan bukti adanya 11 tsunami sebelum 2004.
Seorang pemandu menggunakan lilin untuk menerangi gua yang menurut para ilmuwan mengungkap sejarah tsunami purbakala di Lhong, Aceh. (AP/Heri Juanda)
Seorang pemandu menggunakan lilin untuk menerangi gua yang menurut para ilmuwan mengungkap sejarah tsunami purbakala di Lhong, Aceh. (AP/Heri Juanda)

Sebuah gua yang ditemukan dekat lokasi tsunami di Lhong, Aceh memiliki jejak-jejak ombak raksasa yang berasal sampai 7.500 tahun yang lalu, sebuah catatan alam langka yang menunjukkan bahwa bencana berikutnya dapat terjadi berabad-abad lagi, atau mungkin dalam beberapa dasawarsa.

Penemuan ini memberikan garis waktu terpanjang dan paling rinci untuk tsunami-tsunami yang telah terjadi di provinsi Aceh. Salah satunya adalah ombak-ombak setinggi 30 meter yang dipicu gempa berkekuatan 9,1 Skala Richter pada 26 Desember 2004, yang menewaskan 230.000 orang di beberapa negara, lebih dari setengahnya di Indonesia.

Gua batu kapur tersebut, hanya beberapa meter dari pantai dekat Banda Aceh, adalah sekitar 1 meter di atas air pasang setinggi lutut dan terlindung dari badai dan angin. Hanya ombak-ombak besar yang membanjiri daerah pesisir yang dapat memasuki gua tersebut.

Para peneliti pada 2011 menggali endapan pasir yang tersapu ke gua tersebut selama ribuan tahun dan menumpuk dengan rapi antara kotoran kelelawar seperti lapisan geologis.

Analisis radiokarbon dari materi-materi tersebut, termasuk kulit kerang dan sisa-sisa organisme mikroskopis, memberikan bukti mengenai 11 tsunami sebelum 2004.

Bencana-bencana itu tidak terjadi secara merata, ujar pemimpin penelitian Charles Rubin dari Observatorium Bumi Singapura. Tsunami terakhir sebelum 2004 terjadi 2.800 tahun lalu, namun ada empat lainnya yang terjadi 500 tahun sebelumnya.

Ada kemungkinan terjadi tsunami-tsunami lainnya. Para peneliti mengetahui, misalnya, bahwa ada dua gempa bumi dahsyat di wilayah tersebut sekitar 1393 dan 1450. Rubin mengatakan tsunami besar mungkin telah menyapu bukti-bukti peristiwa lainnya lewat erosi.

Para ilmuwan masih bekerja untuk menentukan ukuran ombak yang memasuki gua.

"Pesan dari penemuan ini adalah bahwa mungkin peristiwa pada 2004 tidak berarti tidak akan terjadi lagi dalam 500 tahun mendatang,” ujar Rubin, dengan menambahkan bahwa gua itu ditemukan tanpa sengaja dan bukan merupakan bagian dari rencana kerja.

"Kami melihat tsunami-tsunami itu berentetan lebih dekat seiring waktu. Saya tidak akan mengeluarkan peringatan bahwa kita akan mengalami gempa bumi lagi, namun hal ini menunjukkan bahwa waktunya sangat bervariasi.”

Gempa yang memicu tsunami 2004 mengejutkan para ilmuwan karena retakan Bumi yang mengeluarkan guncangan dahsyat itu telah berdiam diri selama ratusan tahun. Dan karena gempa besar terakhir mengguncang lebih dari 500 tahun sebelumnya, tidak ada sejarah verbal yang tersisa yang dapat membantu orang memahami risiko tersebut.

Sejak 2004, sebagian besar riset telah dilakukan untuk mencoba memahami masa lalu daerah tersebut dengan mengamati endapan-endapan pasir, karang dan data GPS.

“Penemuan-penemuan ini sangat signifikan,” ujar Katrin Monecke, profesor geosains dari Wellesley College di Massachusetts.

Ia meneliti endapan pasir tsunami yang ditemukan di rawa-rawa daerah tersebut, namun tidak terlibat dalam penelitian di gua, yang dipresentasikan bulan ini di sebuah konferensi Serikat Geofisika Amerika di San Francisco.

"Lapisan-lapisan pasir di gua memiliki jangka waktu yang panjang dan memberikan konsep yang sangat baik mengenai kekerapan gempa bumi.”

Meski tersimpan lama di gua, Rubin mengatakan endapan pasir tersebut tidak memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas mengenai kekerapan tsunami atau kapan peristiwa itu dapat terjadi dalam waktu relatif dekat.

Ahli geologi Kerry Sieh, direktur lembaga di Singapura dan juga bagian dari penyelidikan di gua, telah memperkirakan bahwa gempa dahsyat dapt mengguncang wilayah ini dalam beberapa dekade mendatang. Gempa cenderung datang dalam siklus dan guncangan 2004 memberi tekanan lebih pada lapisan Bumi. Namun, sejarahnya sangat bervariasi sehingga mustahil meramalkan secara tepat.

“Dengan mempelajari jenis-jenis tsunami yang terjadi di masa lalu, mungkin kita dapat merencanakan mitigasi untuk tsunami berikutnya,” ujar Nazli Ismail, kepala departemen fisika dan geofisika di Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh, yang juga bekerja dalam proyek tersebut. (AP/Margie Mason)  

Sejarah Lahirnya GAM (Gerakan Aceh Merdeka)

Sejarah Lahirnya GAM (Gerakan Aceh Merdeka)


Bicara GAM (Gerakan Aceh Merdeka), mau tak mau, harus bicara kelahiran negara Republik Indonesia. Sebab, dari situlah kisah gerakan menuntut kemerdekaan dimulai. Lima hari setelah RI diproklamasikan, Aceh menyatakan dukungan sepenuhnya terhadap kekuasaan pemerintahan yang berpusat di Jakarta. Dibawah Residen Aceh, yang juga tokoh terkemuka, Tengku Nyak Arief, Aceh menyatakan janji kesetiaan, mendukung kemerdekaan RI dan Aceh sebagai bagian tak terpisahkan. Pada 23 Agustus 1945, sedikitnya 56 tokoh Aceh berkumpul dan mengucapkan sumpah. ”Demi Allah, saya akan setia untuk membela kemerdekaan Republik Indonesia sampai titik darah saya yang terakhir.”
Kecuali Mohammad Daud Beureueh, seluruh tokoh dan ulama Aceh mengucapkan janji itu. Pukul 10.00, Husein Naim dan M Amin Bugeh mengibarkan bendera di gedung Shu Chokan (kini, kantor gubernur). Teuku Nyak Arief Gubernur di bumi Serambi Mekkah.
Tetapi, ternyata tak semua tokoh Aceh mengucapkan janji setia. Mereka para hulubalang, prajurit di medan laga. Prajurit yang berjuang melawan Belanda dan Jepang. Mereka yakin, tanpa RI, mereka bisa mengelola sendiri negara Aceh. Inilah kisah awal sebuah gerakan kemerdekaan. Motornya adalah Daud Cumbok. Markasnya di daerah Bireuen. Tokoh-tokoh ulama menentang Daud Cumbok. Melalui tokoh dan pejuang Aceh, M. Nur El Ibrahimy, Daud Cumbok digempur dan kalah. Dalam sejarah, perang ini dinamakan perang saudara atau Perang Cumbok yang menewaskan tak kurang 1.500 orang selama setahun hingga 1946. Tahun 1948, ketika pemerintahan RI berpindah ke Yogyakarta dan Syafrudin Prawiranegara ditunjuk sebagai Presiden Pemerintahan Darurat RI (PDRI), Aceh minta menjadi propinsi sendiri. Saat itulah, M. Daud Beureueh ditunjuk sebagai Gubernur Militer Aceh.
Oleh karena kondisi negara terus labil dan Belanda merajalela kembali, muncul gagasan melepaskan diri dari RI. Ide datang dari dr. Mansur. Wilayahnya tak cuma Aceh. Tetapi, meliputi Aceh, Nias, Tapanuli, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkalis, Indragiri, Riau, Bengkulu, Jambi, dan Minangkabau. Daud Beureueh menentang ide ini. Dia pun berkampanye kepada seluruh rakyat, bahwa Aceh adalah bagian RI. Sebagai tanda bukti, Beureueh memobilisasi dana rakyat. Setahun kemudian, 1949, Beureueh berhasil mengumpulkan dana rakyat 500.000 dolar AS. Uang itu disumbangkan utuh buat bangsa Indonesia. Uang itu diberikan ABRI 250 ribu dolar, 50 ribu dolar untuk perkantoran pemerintahan negara RI, 100 ribu dolar untuk pengembalian pemerintahan RI dari Yogyakarta ke Jakarta, dan 100 ribu dolar diberikan kepada pemerintah pusat melalui AA Maramis. Aceh juga menyumbang emas lantakan untuk membeli obligasi pemerintah, membiayai berdirinya perwakilan RI di India, Singapura dan pembelian dua pesawat terbang untuk keperluan para pemimpin RI. Saat itu Soekarno menyebut Aceh adalah modal utama kemerdekaan RI.
Setahun berlangsung, kekecewaan tumbuh. Propinsi Aceh dilebur ke Propinsi Sumatera Utara. Rakyat Aceh marah. Apalagi, janji Soekarno pada 16 Juni 1948 bahwa Aceh akan diberi hak mengurus rumah tangganya sendiri sesuai syariat Islam tak juga dipenuhi. Intinya, Daud Beureueh ingin pengakuan hak menjalankan agama di Aceh. Bukan dilarang. Beureueh tak minta merdeka, cuma minta kebebasan menjalankan agamanya sesuai syariat Islam. Daud Beureueh pun menggulirkan ide pembentukan Negara Islam Indonesia pada April 1953. Ide ini di Jawa Barat telah diusung Kartosuwiryo pada 1949 melalui Darul Islam. Lima bulan kemudian, Beureueh menyatakan bergabung dan mengakui NII Kartosuwiryo. Dari sinilah lantas Beureueh melakukan gerilya. Rakyat Aceh, yang notabene Islam, mendukung sepenuhnya ide NII itu. Tentara NII pun dibentuk, bernama Tentara Islam Indonesia (TII). Lantas, terkenallah pemberontakan DI/TII di sejumlah daerah. Beureueh lari ke hutan. Cuma, ada tragedi di sini. Pada 1955 telah terjadi pembunuhan masal oleh TNI. Sekitar 64 warga Aceh tak berdosa dibariskan di lapangan lalu ditembaki. Aksi ini mengecewakan tokoh Aceh yang pro-Soekarno. Melalui berbagai gejolak dan perundingan, pada 1959, Aceh memperoleh status propinsi daerah istimewa.
Beureueh merasa dikhianati Soekarno. Bung Karno tidak mengindahkan struktur kepemimpinan adat dan tak menghargai peranan ulama dalam kehidupan bernegara. Padahal, rakyat Aceh itu sangat besar kepercayaannya kepada ulama. Gerilya dilakukan. Tetapi, Bung Karno mengerahkan tentaranya ke Aceh. Tahun 1962, Beureueh dibujuk menantunya El Ibrahimy agar menuruti Menhankam AH Nasution untuk menyerah. Beureueh menurut karena ada janji akan dibuatkan UU Syariat Islam bagi rakyat Aceh (baru terwujud tahun 2001).
GAM lahir di era Soeharto. Saat itu, sedang terjadi industrialisasi di Aceh. Soeharto benar-benar mencampakkan adat dan segala penghormatan rakyat Aceh. Efek judi melahirkan prostitusi, mabuk-mabukan, bar, dan segala macam yang bertentangan dengan Islam dan adat rakyat Aceh. Kekayaan alam Aceh dikuras melalui pembangunan industri yang dikuasai orang asing melalui restu pusat. Sementara rakyat Aceh tetap miskin. Pendidikan rendah, kondisi ekonomi sangat memprihatinkan. Melihat hal ini, Daud Beureueh dan tokoh tua Aceh yang sudah tenang kemudian bergerilya kembali untuk mengembalikan kehormatan rakyat, adat Aceh dan agama Islam. Pertemuan digagas tahun 1970-an. Mereka sepakat meneruskan pembentukan Republik Islam Aceh, yakni sebuah negeri yang mulia dan penuh ampunan Tuhan. Kini mereka sadar, tujuan itu tak bisa tercapai tanpa senjata. Lalu diutuslah Zainal Abidin menemui Hasan Tiro yang sedang belajar di Amerika. Pertemuan terjadi tahun 1972 dan disepakati Tiro akan mengirim senjata ke Aceh. Zainal tak lain adalah kakak Tiro. Sayang, senjata tak juga dikirim hingga Beureueh meninggal. Hasan Asleh, Jamil Amin, Zainal Abidin, Hasan Tiro, Ilyas Leubee, dan masih banyak lagi berkumpul di kaki Gunung Halimun, Pidie. Di sana, pada 24 Mei 1977, para tokoh eks DI/TII dan tokoh muda Aceh mendirikan GAM. Selama empat hari bersidang, Daud Beureueh ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi. Sementara Hasan Tiro yang tak hadir dalam pendirian GAM itu ditunjuk sebagai wali negara. GAM terdiri atas 15 menteri, empat pejabat setingkat menteri dan enam gubernur. Mereka pun bergerilya memuliakan rakyat Aceh, adat, dan agamanya yang diinjak-injak Soeharto.
Miliki Pabrik Senjata dan Berlatih di Libia
Setelah didirikan, GAM mendapat dukungan rakyat. Hubungan dengan dunia internasional terus dibangun. Kekuatan bersenjata pun disusun. Berapa anggota GAM, bagaimana kekuatannya, jaringan internasionalnya, dan dananya?
Masih ingat deadline maklumat pemerintah 12 Mei 2003 lalu. Hingga batas waktu ultimatum, pemerintah tak juga mengeluarkan keputusan sebagai tanda awal operasi militer ke Aceh. Konon, saat itu pemerintah menghitung kekuatan TNI di sana. Ada kekhawatiran, TNI bakal dilibas GAM melalui perang gerilya. Secara tidak langsung, kabar ini menyiratkan ketangguhan kekuatan bersenjata GAM. Sesungguhnya jumlah anggota GAM itu sebagian besar rakyat Aceh. Filosofinya begini. Jika rakyat terus ditindas, maka seluruh rakyat itu akan bangkit melawan. Dan, hal seperti inilah yang terjadi di bumi Serambi Mekah itu. Perlawanan GAM mendapat simpati luar biasa dari rakyat Aceh. Rakyat yang lama ternista dan teraniaya. Sambil berkelakar, Panglima Tertinggi GAM dan Wakil Wali Negara Aceh Tengku Abdullah Syafei (alm) sempat mengatakan, bayi-bayi warga Aceh telah disediakan senjata AK-47 oleh GAM. Mereka akan dididik dan dilatih sebagai tentara GAM dan segera pergi berperang melawan TNI.
Sejatinya, basis perjuangan GAM dilakukan dalam dua sisi, diplomatik dan bersenjata. Jalur diplomasi langsung dipimpin Hasan Tiro dari Swedia. Opini dunia dikendalikan dari sini. Sementara basis militer dikendalikan dari markasnya di perbatasan Aceh Utara-Pidie. Seluruh kekuatan GAM dioperasikan dari tempat ini. Termasuk, seluruh komando di sejumlah wilayah di Aceh dan di beberapa negara seperti Malaysia, Pattani (Thailand), Moro (Filipina), Afghanistan, dan Kazakhstan. Tetapi, kerap GAM menipu TNI dengan cara mengubah-ubah tempat markas utamanya. Di seluruh Aceh, GAM membuka tujuh komando, yaitu komando wilayah Pase Pantebahagia, Peurulak, Tamiang, Bateelik, Pidie, Aceh Darussalam, dan Meureum. Masing-masing komando dibawahi panglima wilayah.
Sejak berdiri tahun 1977, GAM dengan cepat melakukan pendidikan militer bagi anggota-anggotanya. Setidaknya tahun 1980-an, ribuan anak muda dilatih di camp militer di Libia. Saat itu, Presiden Libia Mohammar Khadafi mengadakan pelatihan militer bagi gerakan separatis dan teroris di seluruh dunia. Hasan Tiro berhasil memasukkan nama GAM sebagai salah satu peserta pelatihan. Pemuda kader GAM juga berhasil masuk dalam latihan di camp militer di Kandahar, Afghanistan pimpinan Osama bin Laden. Gelombang pertama masuk tahun 1986, selanjutnya terus dilakukan hingga akhir 1990. Selama DOM, pengiriman tersendat. Tetapi, angkatan 1995-1998 sudah mendapat latihan intensif. Ketika DOM dicabut, prajurit dari Libia ini ditarik ke Aceh. Jumlahnya sekitar 5.000 personel dan dijadikan pasukan elite GAM (semacam Kopassus). Jalur ke Libia memang agak mudah. Dari Aceh, para pemuda Aceh itu dikirim melalui Malaysia lalu menuju Libia. Jalur lainnya dari Aceh lalu ke Thailand menuju Afghanistan dan melanjutkan ke Libia. Dari jalur ketiga, yakni melalui Aceh menuju Filipina Selatan dan ke Libia. Tiga jalur penting ini hampir selalu lolos dari jangkauan petugas imigrasi, polisi, dan patroli TNI-AL. Di era Syafei hingga sekarang dipegang Muzakkir Manaf, personel GAM terdiri atas pasukan tempur, intelijen, polisi, pasukan inong baleh (pasukan janda korban DOM) dan karades (pasukan khusus) serta Lasykar Tjut Nyak Dien (tentara wanita). Wakil Panglima GAM Wilayah Pase Akhmad Kandang (alm) pernah mengklaim, jumlah personel GAM 70 ribu. Anggota GAM 490 ribu. Jumlah itu termasuk jumlah korban DOM 6.169 orang.
Sumber resmi Mabes TNI cuma menyebut sekitar enam ribu orang. Mantan Menhan Machfud MD menyebut 4.869 personel. Dari jumlah itu, 804 di antaranya dididik di Libia dan 115 dilatih di Filipina — Moro. Persediaan senjatanya terdiri atas pistol, senapan, GLM, mortir, granat, pelontar granat, pelontar roket, RPG, dan bom rakitan. Jenis senapan di antaranya AK-47, M-16, FN, Colt, dan SS-1. Dari mana persenjataan itu diperoleh? Ada jalur internasional yang menyuplainya. Sejumlah negara disebut antara lain, gerakan separatis Pattani Thailand, Malaysia, gerakan Islam Moro Filipina, eks pejuang Kamboja, gerakan separatis Sikh India, gerakan Elan Tamil, dan Kazhakstan serta Libia dan Afghanistan. GAM juga membuat pabrik senjata. Di antaranya, di Kreung Sabe, Teunom — Aceh Barat — dan di Lhokseumawe dan Nisau-Aceh Utara serta di Aceh Timur. Jenis senjata yang diproduksi seperti bom, amunisi, senjata laras panjang dan pendek, pabrik senjata ini bisa dibongkar pasang sesuai dengan kondisi medan. Jika akan diserbu TNI, pabrik senjata telah dipindahkan ke daerah lain. Para ahli senjata disekolahkan ke Afghanistan dan Libia.

Senjata-Senjata GAM juga berasal dari Jakarta dan Bandung. Pasar gelap senjata ini dilakukan oleh oknum TNI dan Polri yang haus kekayaan. Bagi GAM, asal ada senjata, uang tidak masalah. Sebab, faktanya GAM ternyata memiliki sumber dana yang sangat besar. Jumlah pembelian ke oknum TNI/Polri ini bisa trilyunan rupiah. Sebuah penggerebekan tahun 2000 oleh Polda Metro Jaya sempat menemukan kuitansi Rp 3 milyar untuk pembelian senjata GAM di pasar gelap dari oknum TNI. Kini, senjata yang dimiliki TNI juga dimiliki GAM. Yang tak dimiliki GAM adalah senjata berat. Sebab, sifatnya yang lamban. Prinsip GAM, senjata itu harus memiliki mobilitas tinggi, mudah dibawa ke mana-mana. Sebab, strategi perangnya yang hit and run. GAM bahkan mengaku memiliki senjata yang lebih modern daripada TNI. Misalnya, senjata otomatis yang dimiliki para karades. Senjata otomatis, berbentuk kecil mungil itu bisa tahan berhari-hari dalam air. Anggota karades inilah yang biasa menyusup ke kota-kota dan menyergap anggota TNI/Polri yang teledor.
Membeli senjata tentu dengan uang melimpah. Sebab, harganya yang tak murah. Lantas, dari mana mereka mendapatkan dana? GAM memiliki donatur tetap dari pengusaha-pengusaha Aceh yang sukses di luar negeri. Di antaranya, di Thailand, Malaysia, Singapura, Amerika, dan Eropa. Dana juga didapatkan dari sumbangan wajib yang diambil dari perusahaan-perusahaan lokal dan multinasional di Aceh. Sebagai gambaran, tahun 2000 lalu, GAM meminta sumbangan wajib kepada seorang pengusaha lokal bernama Tengku Abu Bakar sebesar Rp 100 juta. Abu Bakar diberi surat berkop Neugara Atjeh-Sumatera tertanggal 15 Februari 2000 yang ditandatangani oleh Panglima GAM Wilayah Aceh Rajek Tengku Tarzura. Mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menyebut Pupuk Iskandar Muda pernah menyetor Rp 10 milyar ke GAM untuk biaya keamanan. GAM kerap melakukan gangguan bila tidak mendapatkan sumbangan wajib tersebut. Makanya, setiap bulan, GAM mendapat upeti dari para pengusaha ”sahabat GAM” itu. Sistem komunikasi GAM juga sangat canggih. Sistem komunikasi berlapis dilakukan GAM sebagai benteng pertahanan dan propaganda. Selain handytalky, GAM juga memiliki radio tranking, radar dan telepon satelit. GAM juga memiliki penyadap telepon. Acap kali gerakan TNI/Polri dimentahkan aksi-aksi penyadapan ini. Penggerebekan sering kali gagal total.
Sistem organisasinya yang disusun dengan sistem sel juga membantu GAM survive. Tidak mudah menemukan markas GAM. Meski, ada sebagian anggota GAM yang ditangkap. Antara anggota dan pejabat satu dengan yang lain kadang tidak berhubungan, tidak saling mengenal. Ketua Umum Forum Perjuangan dan Keadilan Rakyat Aceh (FOPKRA) Shalahuddin Al Fatah menuturkan, sejak zaman Belanda, rakyat Aceh memang tidak pernah menang. Tetapi, rakyat Aceh tidak pernah ditaklukkan. Fakta sejarah pula, gerakan rakyat Aceh menentang pusat tidak pernah menang. Tetapi, TNI tidak pernah bisa menaklukkan mereka.

Jumat, 26 Juni 2015

PEKAN KEBÜDAJAAN AT’JEH KE-II



PANITIA PUSAT
PEKAN KEBÜDAJAAN AT’JEH KE-II
(The 2 nel. Atjoh Cixltural Festival)
ACEH PALAM LIFTASAN SEJARAH .
Suatu Tinjauan Kebudayaan
o
1
e
h
= PR.T.ISKAKDAR=
PRASARAN
PAPA SEMINAR KEBUPAJAN
PALAM RANG-KA PKA.-II DAN DIES
'NATALIS KE-XI UNIVERSITAS SJIAH
' KUALA ,
#
21 s/d 25 Agustus 1972.
1 f# VOO* J|
i H^m&^r
PANDA ATJEH.

ACEH DALAM IINTASAN SiSJARAH l SUATU TINJAUAN
KE BUDAYAAN
01eh : Br.T.Iskandar.









ZAMAN PRA ACEH.
Seorang Portugis yang bernaaa Tomé Pires dan berada
di Malaka pada tahun 1513 penulis bahwa di Aceh terda
pat banyak kerajaan dan negeri. Diantara lain disebutnyakarajaan
Aceh dan Laari negeri Bihar(Biheue),kerajaan Pe
dir , negeri Acilabu,keradjaan Lide(?),kerajaan Pirada ,kerajaan Pacee-LAMR,I .
Kerajaan yang tertua selaki yang pernah disebut2 -
oleh berita2 asing ialah kerajaan Lauri . Kerajaan ini agak
nya terletak di sekitar Krueng Rayasekarang ini* Ia sudahdisebut2
oleh berita2 Arab sejak pertengahan abad ke-9 Ma
sehi . Kenudian pula disebat oleh prasasti Tanjoredi India
(1030). Oleh berita Cina ia ' telah disebut2 sejak tahun 12 ;
25 dan oleh orang Erppah sejak tahun 1292( Marco Polo ) .
Tetapi tidak bajak yang kita kotahai ten tang negeri ini selain jumlah penduduknya yang begitu keöill dan pertaniannya yang tidak begitu penting. Yang penting ialah -hasil hutannya.

KERAJAAN PASAI .
Yang lebih banyak kita ketahui ialah mengenai Pasai
, yang.selain d i sebut2- oleh berita laar juga d i cerite ra -
kan oleh Hikayat Raja-Raja Pasai .-Kerajaan ini . yang letak -
nya pada perhubungan laat antara dunia Arah/India dan Cina,
télah terkenal sejak abad ke- 13 sebagai pusat perdagangan
di Selat malaka. Hubungannya yang erat dengan negeri Arab dan India nengakibatkan negeri Pasai merupakan salah sebaah negeri pertama di Indonesia. yang telah ceoeluk
agama Islam. Sesudah itu pula Pasai sendiri menjadi pengembang Islam didaerah Asia Tenggara ini . Petani di lslatakan -
dalam abad ke- 14, Malaka pasok Islam dengan usaha Pasai
pada awal'abad ke- 15. Bahkan Jawa Barat memelak agama Islam karena seorang pengembang agama dari Pasai.

Ketika Ibn Batutah, seorang pengembara dari Maroko,
mengunjungi Pasai pada tahun 134'::
s tefajm èthi berada pada
puncak kenegahannya. Ibn Batutah berada selama dua ninggu
d i Pasai dan telah melihat bahwa tempat ini mempunyai benteng di seke - ilingnya . Dia telah di terima oleh seorang naib
laksama- di balairung dan telah diberi persalir.an nenurut
adat setenpat. Pada hari ketiga ia mendapat kesempajjan untuk aenghadap Sultan yang memerintah pada ketika itu , Sultan
Malikul - Zahir. Ibn Batutah telah berjumpa di Pasai -
dengan tiga ulama terkenal , Anir Pawlasa dari Pelhi , Kadi
Amir Said dari Shiraz , dan Tajuddin dai Ispahan. Pikatakan
nya bahwa Sul-tan Pasai sangat suka berbahas dengan ulama.2
Dengan nama terkenal dalan ilmu pengetahuan yang di jaapal
Ibn Batutah di Pasai , nyatalah kepada kita bahwa negeri ini pada masa itu telah nenjadi pusat pengajaran Islam di
Kepulauan Nusantara. Pusat pengajaran ini telah menarik -
cerdik pandai yang terkenal dari dunia Islamlainnya.-
Kerajaan Pasai telah meninggalkan kepada kita Hikayat Raja - Raja Pasai , sebuah hasil historiograü Melayu yg tertua sekali .

KERAJAAN PERLAK.
Sunber yang tertua sekali yang pernah menyebut nama
Perlak ialah karya seorang Parsi Rasyiduddin(l310 ) .
Palam hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu di ceriterakan tentang perkawinan Sultan Malikul - Saleh dari Pasai
dengan seorang puteri raja Perlak . Ia juga disebut sebagai
sebuah kerajaan yang mula2 sekali di islamkanl Pari ceri -tera ini dapatlah kita mengambil kesiopulan bahwa Perlak -di masa itu telah merupakan sebuah kerajaan yang penting .
tetapi pengarang2 lama itu tidak nemberi berita yang l e -bih lanjut tentang negeri ini .

PENYATUAN ACEH.
Dari Hikayat Aceh kita ketahui bahwa negeri Aceh -•
pada s'uatu ketika terbagi dua; bagian yang bernama Makota
Alam terletak di utara Sungai Aceh sedangkan yang sebagian
lagi yang bernama Daral Kaoal terletak disebelah selatan Sungai Aceh. Walaupun kedua bahagian ini di perintah oleh dua orang Raja yang berasal dari satu keluarga,namun -
keduanya berada dalam peperangan saja .
Hanya pada* bahagian terakhir abad ke-15 Sultan Syamsu Syah Raja M'akota Alam, berhasil dengan cara licik mengalahkan Parui - Kamal . Syamsu Syah meminang untuk puteranya ,Ali Mughayatiyah 7 puterI Setia Indera , anak Sultan Inayat -Syah dari Parui - Kamal. Tetapi pada hari menghantar pengantin baru ke Parui - &amal Syamsu Syah telah memasukkan alat sen-jata dalam perarakan dan setelah sampai di sana dengan mudah saja orang Makota Alam dapat mengalahkan orang Pa-rul - Kamal yang tidak menaruh syak sama sekali tentangmaksud ini ,
Walaupun telah terdjadi pembunuhan yang begitu ke-jam perkawinan antara Ali Mughayat Syah dan Setia Indera-telah di langsungkan juga. Namun begitu kejadian ini telah -menentukan naslb Ali Mughayat Syah dan Politik Aceh di kemudian hari . Setelah di satukan Makota Alam dan Aceh Parui-Kamal kerajaan baru itu di sebut Aceh Parus - Salam.
Karena pengaruh Perma-ri Setia Indera inilah .Ali-Mughayat Syah telah memakzulkan ayahnya, dan telah mengan -Ml sendiri pemerintah Aceh Parus-Salam ( 1516 ),




ALI MUGHAYAT SYAH MEMPERLUASKAN DAERAH KERAJAAN ACEH (1516
- 1530 ).
Setelah Parui-Kamal kalah seorang putera Sultan Inayat Syah , Sultan Alauddin telah melarikan diri ke Daya -dan mendirikan kerajaan baru disana.Tetapi tidak berapa -lama sesudah itu Daya pula dapat dikalahkan oleh Ali Mughayat Syah ( 1520). Ali Mughayat Syah mengalahkan Pidie (l52l)
dan Pasai ( 1524 ). Dengan ini ia telah meletakkan dasar -kerajaan Aceh yang lebih luas . Pada tahun 1524 Ali Mughayat Syah telah tnembaat p^cubaah yang tidak berhasil untuk mengalahkan
orang Portugis di malaka .
Ali Mughayat telah mangkat pada tahun 1530 karena di racun oleh permaisuri Setia Indera , yang masih lagi men-dendam karena ayahnya serta saudaranya. telah kehilangan negeri mereka d i sebabkan oleh suaminya. Ali Mughayat Syah digantikan oleh puteranya Suü+ - Salahuddin .

ACEH KULAl MEM3TJ AT HüjUiXAÏ? BENGAL "<TJtlI,. L1 L_P^
Walaupun Sul-tan salahuddin yang dI angkat menjadi Raja namun teraju pemerlntahan sebenarnya dipegang oleh bundanya Setia Indera . Bahkan permaisuri ini telah melantik pula seorang Agha sebagai aangkubuoi dengan gelar Raja Bangsu c
Perkara ini aeabangkitkan keaaraljah adik Salahuddin , Alauddin , yang oeraerintah 'di Pasai . Alauddin telah pulang ke ibu negeri dan secara licik dapat menbunuh Raja Bungsu. Kemudian pula dipenjarakannya. ibu dan abangnya.

Sultan Alauddin Riayat Syah Al - Katar( 1539-1571 )
memperluas lebih lanjut daerah Aceh, Bia mengalahkan Aru(1539)» dan Joher ( 1564 ) serta kawin dengan puteri raja Johor . Di pantai barat Sumatera daerah Aceh telah meluas hingga, dengan Minangkabau. Utusan2 di kirin ke Jawa, India dan -Turki . ütusan jang ke Turki(1564) telah berhasil mendapat -
bantuan berupa armada yang di kirim oleh Sultan Turki untuk membantu Aceh nenghancurkan orang Portugis di malaka. Tetapi sayang sekali, baru saja armada ini dalam pelayarannya -ia telah dialihkan arahnya ke Yanan karena telah timbul penberontakan disana terhadap pemerlntahan Turki.Hanya beberapa buah kapal telah sampai di Aceh dengan alat senjata•
diantaranya Lada S i cupak . Bersamaalat senjata itu telah datang pula tukang2 Turki yang pandai membuat kota dan menu -ang senjata . Sejak itulah di buat kota2 dan dituang alat senjata di Aceh. Dada tahun 1579 Aceh mengalahkan kejaan Perak dan pada tahun itu pula. anak Sultan Perak Yang bernama Mansur dinobatkan sebagai Sul—tan Aceho

ACEH MENCAPAI PUNTJCAK KEBESARANHYA.
Sultan Alauddin Riayat Syah, Sayyidal - Mukammil (1585 - 1603 ), nemperluaskan lagi hubungan luar negeri Aceh Ia membuat perjanjian perdagangan dengan Inggris dan mengirim utusan kenegri Belanda. Pada zaman kerajaan Sul-tan inilah lahir Iskandar Muda, cucu Alauddin Riayat Syah.
Pari pihak ayah Iskandar Muda ialah keturunan Makota
Alam dan dari pihak ibu dari keluarga Parui - Kamal. Keturunannya ini pula yang nemperkuat lagi kedudukan Iskandar Muda sebagai Raja Aceh ( 1606 )o

-' ' r, ':-hapaya'daerah penerintahan Aceh diluaskan
lagi . Deli dikalahkan kenbali(1612) dan Johor d i -
taklukkan lagi (1613)*Pahang dikalahkan pada tr.van XSlc1'
Perak pada tahun 1620. Keuudian Iskandar Muda Mengalahkan
. Pias (l625) .tetapi serangannya. terhadap Melaka tidak nenghasilkan kenenangan,bahkan mengakibatkan kehancuran angkatan Aceh. %aun dibawah penerintahan Iskandar daerah Aceh 4'di Sumatra meliputi daerah yang luasnya hingga ke Riau d i -
sebelah timur dan hingga ke Indra Pura di pantai barat.
Iskandar Muda juga telah nengatur cara penerintahan Aceh.
Perkenbangan Kebudajaan.
Sesudah Melaka. dikalahkan oleh Portugis(1511) pedagang2
Islam yang berada disana pindah ke tenpat2 lain karena orang Portugis menusuhi orang Islam . Banyak dari
pedagang2 ini yang berpindah ke Aceh,kerajaan yang mulai-maju pada ketika itu Bersana-sana pedagang2' ini datang pula ula.ua2 dan pujangga2 ke Aceh. ^alan nasa yang singkats
aja Aceh telah dapat aenggantikan Malaka sebagai pusat -
perdagangan dan pusat perk era ban gan kebudayaan d i Selat. Malaka . Setelah mengalahkan tfohor dan kawin dengan puteri -
sultan Johor (1565) Alauddin Riayat Syah, Sultan Alauddin Riayat Sjah Al-Kahhar nenyusun kenbali penerintahan -
dan pera.turan2 d i Aceh. Hal ini tentu ada kaitan dengan hubungan antara Aceh'dan Johor pada. nasa itu . Alauddin Riayat
Sjah Johor dan nertua Alauddin Riayat Syah Al-Kahar ialah -
puteri Sultan Mahnudt? Raja Malaka yang terachir yang di kalahkan oleh Portugis . Pan sultan Mahoud ini pula yecg telah aenyuruh susun kenbali nndang2 Malaka. :. iMungkin ter -
pengaruh oleh penyusunan kenbali Ündang2 Malaka ini Alauddin Al-Kahar nenyusun kenbali penerintahan Aceh.
Pada zanan penerintahan Sultan Ali Riayat Syah(1571-
1579) pengajaran ugana nenjadi penting di Aceh. Raja sendiri telah neninbulkan suasana yang baik untuk tujuan ini .
Bustanus-Salatin nengatakan bahwa Sultah ini : "sangat halin peKaaganya dan pengasih akan segala rakyatnya dan akan
segala ulana,syafakat akan segala fakir dan niskin".Suasana
yang serupa ini neninbulkan juga ninat dari ulana terkenal untuk nengunjungi Aceh. Buctr.nus-Salatia nenceriterakan pula bahwa pada nasa itu datang ke Kekkah seorang peh6dito. yang bernama Muhammad Azhari dan bergelar Syaikh Nu -ruddin. Syaikh ini , yang berasal dari Mesir,nengajan ilmu -
Ma^qulat di Aceh. Tidak berapa 'lama sesudah itu Syaikh -
Nuruddin ini meninggal dunia.
Sultan Mansur Syah ibn Sultan Ahnad(Perlak) 1579 —
1585 celen juitkan l a g i usaha yang telah dimulai oleh sul-tan Ali Riayat Syah untuk neuajuknn pengajaran agana.Tentang fiaja ini Bustanus - Slatin nenyatakan :n Sultan itu auat saleh dan muttaqin ,lagi adil pada segala barang hukuunya,
dan keras pada segala barang perintahnja . Ialah yang -mengasihi segala ulama dan memeliharakan syariat Nabi Muhammad saw.,dan menegakkan segala rakyatnya uinuu aröto dan penyabung, dan nenyuruhkan segala hulubrlangnya berjanggut
dan memakai jubbah dan berserbr.n, dan menyuruhkan segala -
rakyatnja sec bah yang lioa waktu,dan puasa. Raaadhan dan puasa
sunnah, dan necberi.zakqt.
Pada aasa kerajaannya datanglah ulama2 terkenal dari
berbagai2 negeri berkat usahanya berken brnglah pengajaran
agama dan kesusasteraan agama.
Pada tahun 1582 datang dari makkah Syaikh Abul-Khalr bin Syaikh ibnu Ha3ar. Ulama ini mengarang kitab yang bernama Saigul QAti' yang neobinc .angkan a'yan ,thabitah (ideal'prototypes) . Selanjutnya ia mengajar ilmu Piffh. Kemudian
datang pula Syaikh Muhannad Janani yang ahli ilmu usul.
Pada suatu nasa kedua Syaikh ini nenperdebatkan nasaalah -
a'yan thabitah tetapi perdebaran ini tidak nèncapai sesuatu penyelesaian. Pan akhirnja kedua mereka itu meninggalkan negeri Aceh.
Kemudian pula datang dari Ranir (Gujerat) Syaikh Muhammad
Jailani Ibn Hassan ibn Muhammad Hanidi Syaikh mengajar di Aceh ilmu mantiq. na'ani,ilmu bayan badda 'I,ilmu u~sul dan ilmu bfiqh . S y a i k h Muhammad Jailani Ars-Rühiri ini ialah panan Syaikh Nuruddin ar-Raniri,pengarang kitab Bustanus Salatin yang terkenal itu.
Tetapi ketika penuntut2 neninta belajar ilmu tasawuf
padanya, Syaikh Nuruddin neninta tangguh dan belajar ke Mekkah untuk menpelajari sendiri dahulu.
Pada zanan penerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah -Sayyid al-Kukacnil,Syaikh Nuruddin balik lagi ke Aceh dan mengajar ilmu tasawuf.Beliau pair. telah nenyelesaikan na~saalah ayan. thabitah yang dahMu diper debatkan oleh Syaihk
Abul Khair dan Syaikh Muhannad Yanani.
Pada tahun 1603 telah dikarang d i Aceh oleh Pokharial-Jauhari kitab Ta,jus Salatin atau dengan terjenahan pengarangnya
sendiri,Mahkota segala Raja.,2. Buku ini merupakan
pedooan untuk r a j a - r a j a bagainrna caranya harus cenerintah.
Ia dapat disaoakan dengan I I Principe,karangan Kacchiavel-li , di Eropah(l510). Tetapi kalau kita bandingkan kedua karya
ini kita lihat perbedaan yang- sangat besar. IIPrincipe
nengutanakah kekekalan penerintahan s,eseorang raja- , walau
pun cara-cara yang harus digunakan untuk nencapai tujuan -
ini berupa tidak adil, sedangkan taju's salatin mengutamakan penerintahan raja yang adil. Bengamin tajussalatin sangat luas di Kepulauan Nusantara,ia oasih lagi berpengaruh
pada abad ke 19 di istana2 Jawa Tengah dan disemenan-jung tanah Melayu.
Zanan kerajaan sultan Alauddin Riayat Syah al-kaharjuga
terkenal dengan perkenbangan tarikat wujuddiyah yang
diperkenalkan oleh Hanzan Pansuri,ulana dan pujangga padai
tu . Hanzah Pansuri dilahirkan di Barus yang merupakan sebahagian dari kerajaan Aceh ketika itu . Beliau juga terkenal . sebagai orang yang nencipta bentuk poeisi yang
terkenal dengan syair ,
Piantara karya-karya Hanzah yang naslh tinggal lagi ialah i Asrar al- Arifin,Syarabal- 'Asyikin dan Zinaial-Muwwahidin. Syair-syairnya ialah Syair Si Barang Pungguk,
syairSi Barang Pingai syair Sidang Pak Ir,syair dan syair Perahu. Senua karya Hanzah berunsur tasawuf .
Sebagai contoh ajaran wujudiyyah yang di ajar oleh -
Hanzah dapat kita lihat dalan karyanya Asrar al-1Arifin Adapun kepada ulana Syari1 ah zat Allah dan wujud Allah dua hukunnya,wujud ilnu dengan alin dua hukunnya,wujud-
Alau dengan alan dua hukunnya; wujud alan lain wujud Allah
lain . A^apun wujud Allah dengan zat ^ Allah ' nisal natahari -
pao.a,
dengan cahayanya, sungguhpun esa/penglihat dan penglihat -
hati,dua hukunn7a; natahari lain,sahaya lain .

Adapvin alaa aaka dikatakan wujudnya lain karena alan
seperti bulan beroleh eahaya dari pada natahari . Sebab inilah dikatakan ulana ! wujud alan lain dari pada wujud Allah.
Wujud Allah dengan zat Allah lain :::aka kata ahli suluk
: jika denikian Allah ta'ala di luar atau dalan alan dapa$-
di kata , atau hanpir kepada alan atau jauh dari pada -
alan dapat di kata . Pada kani zat Allah dengan wujud Allah esa hukunnya,wujud Allah dengan wujud alan esa,wujud alan
dengan alan wsa hukunnj'a. Seperti cahayanya nananya dua -
lain,pada hakikatnya tiada lain,pada penglihatan nata esar
pada penglihat hati esa. Wujud alanpun denikian lagi dengan
wujud Allah esa,kerana alan tiada berwujud sendirinya,sung
guhpun lahirnya dia berwujud,tetapi wahni juga bukan wujud
hakiki seperti bayang-byang dalan cernin,rupanya ada. hakikatnya
tiada . . . "
Pada zanan penerintahan Sultan Iskandar Muda telah nuncul pula ulana lain sebagai pujangga di Aceh,ia. Itu Syaikh Syansuddin Pasai . Syaikh Syansuddin ialah nurid dan
pengikut yang taat dari Hanzah Pansuri. Kenudian-pula ia.
nenjadi guru dan penasehat Iskandar Muda. Syansuddin uen -
perkenbangkan lagi ajaran yang telah dinulei . .oleh Hanzah -
di Aceh itu .
Wanun begitu Syansuddin nenperingatkan bahwa apa yang
dibincangkannya i t u berbahaya bagi orang yang t i d a k nenaha
ninya: "Adapun kata i n i perkataan tahkik se-nata2,naka
jangan dikatakan pada bukan tenpatnya,naka sia2 belaka tirai Rasulullah dan sia2 neubunuh Nabi sekei;i:,dua laksa enpat ribu denikian , wallahu alan."
Pula Selandutnya/dinasehatkannya supaya nurid itu nenganbil guru yang senpuma dan yang betul2 dapat di percayai : "
Maka senpurnalah pendapat budi bicara ' kita , tetapi kata itu
Mcarakan baik2 kepada guru yang senpurna,kaïa na itu bukan
nudah2an, kerana rahasia ini dari pada nakan Al-anbia danaulia dan dari pada khatan an-nabi.... Tetapi rahasia itu terlalu sukar, jikalau tiada d.ngan isyarat guru yang kanu dan yang kani dan jika tiada nurid yang bijaksana , tiada akan
diperoleh,kerana jikalau dengan hawa nafsu sahaj'a nenjadi nazhab kafirzindikia . Itulah ia ,deni Allah,jangan tuan keluarkan rahasia ini kepada bukan tenpatnya. Wallah billah wakalan Allah,jangan ditujukkan kepada bukan orang2nya,k*rona rahasia itu terlalu besar".
• Kitab2 Syansuddin yang aasih tanggal lagi ialah.-Burratal-Para'id ,Hidayat al-Habib,Mir•atul-Mu'nin,Kitab Mir-'atul Muhakkikin,Kitab fidzikrda'ira kab al-kawwayna,kitab Sirral-..'Arifina,Mir'at al-Kulub,Tabyan fina ' rifat al~ yan dan beberapa karya nengenai sifat dua puluh dan -martabat tujuh. Juga Hikayat Aceh dianggap sebagai hasil gubahan Syansuddin Pasai.
Iskandar Muda setelafe nangkat digantikan oleh uenantunja
sultan Iskandar Thani jang bera.sal dari Pahang. Pada
•asa itu Syaikh Syansuddin Pasai telah neninggal dunia dan
telah digantikan sebagai ulana dan pujangga istana oleh -
Syaikh Nuruddin Ar - raniri Tang berasal dari GujaratiNapua-
•denikian selaba d i Aceh d i nenjadi begitu pasih dalan baha
sa nelayu . ahkan bahasa ^elayu Nuruddin lebih indah lagi
daripada bahasa Syansuddin . Nuruddin n*enulis karangan2 yaitu dalan bahasa nelayu atau dalan bahasa Arab. Karya2 Han
zah i a l a h sebagai berikut : Siratul-Mustakic (Melayu) Nubdhafida'awa'az - zill na'asah ibihi(Arab) . Kata. ' if Al-Asrar (tidak diketahui naskannja), Asrar al - insanfina'arifat
ar-ruh vvar-rahnan (Arab dan nelayu),Akhbar al-akhirafi-ahwal al-kiyana (Arab,Melayu,Aceh,dan lain2),Halaz zill-( Arab,Melayu), Ma'al-hayat li - ahl al-nanat (Arab dan Hela '
yu), Jawahil al - uluufikasyf al-ua'luujUndat al-i'tikad-karanggan nengenai dunia sebelun dijadikan Tuhan atau Melayu , Syfa' al -kulub,Hujjatas - siddikli - daf'aa - zindik (Melayu), Path al-uubin ala'1- nulhidin (nelayu) Kifayat as-saP"lat(Melayu) . ia juga telah nenter3enahkan kenbali hikayat
IskandarPzulkarnein yang pernah disebutnya dalan karya lain.-'
Tetapi karya Nuruddin Ar- raniri yang terbesar ialah
kitab Bustanus-Salatin atau dengan terjenahannya sendiri -Kebun segala Raja-Raja. Buku ini ialah buku yang terbesar -dalan kesusasteraan Melayu klasik . Buku ini terdiri dari -tujuh bab yang dibagi2 lagi dalan pasal2 .Keenan bab yang pertana
uerupakan sejarah dunia Islan nulai terjadinya langit dan buni hingga saupai sejarah Aceh pada nasanya sendiri . Bab yang ketujuh ialah nengenai ilnu Birasat , ilnu Tabib,sifat perenpuan dan,lain2.

Dalan bab yang kedua,pasai ketiga belas, di cetitakannya sejarah Aceh Dalai dari sultan Ali Mughayat Syah -
hingga ke zanan Sultan Iskandar Thani.
Syaikh Nuruddin a r - R a n i r i nerupakan penentang ajaran wujudiyah yang diperkenbangkan oleh Haozah Pansuri dan
Syansuddin Pasai,dalan bapy'ak karangannya ia menyalahkan-*
ajaran ini . Dalam karyanya hujj atas - siddik lidaf'az -•-
zindik dijelas'kannya • sifat wujudiyah itu sebagai berikut
: "Aoat nyata kesalahan nareka itu karena ' di tacsilkan mereka itu hak ta'ala dengan oakhluk seperti natahari dengan
panas yang hadis ]§eduanya, Maka dihubungkannya oakhluk dengan
hak ta'ala seperti perhubungan panas dengan natahari?
dan tiada sesuatupun dari pada keduanya berhubung,naka nisal yang denikian itu nuhal,se-kali2 tiada diperoleh pada
hak Ta'ala....»"
Dalan Tabyan fina'arifat al-adyan Nuruddin ar-Ranïri
oenyatakan pula nengenai wujudiyyah; dan lalu pula katanya
tausil seperti natahari dengan cahaya dengan panas,nauanya
tiga ,.rupanya tiga,hakikatnya. satu jua, Maka i'tikad ini
sepertI i'tikad nasrani,bahwa wujud'tiga,pertaoa wujud ba
pa,kedua wujud ibu , ketiga wujud anak,sungguhpun tiga naou•
tetapi pada hakikatnya satu jua. Dijauhi segala yang barinan
Pertentangan diantara pahan Hanzah Pansuri dan Syansuddin
Pasai pada satu pihak serta Nuruddin ar-Raniri pada lain pihak akhirnya oeluas nenjadi pertentangan antara
Nuruddin sendiri dengan pengikut2 atau nurid Hanzah dan-
Syansuddin. Persengketaan ini begitu nenuncak sehingga di
adakanlah perdebatan antara Nuruddin A r - Raniri dengan nurid2 Hanzah dan Syansuddin dihadapan sultan Iskandar Thani
dinuka nesji Raya.
Tentang hasil perdebatan-ini dapat kita baca dalan karya Nuruddin ar-Raniri Tabyan fioa*rifat al-adyan:" Maka tatkala zahirlah kaun wujudyyah yang zindik dan nulhid lagi sesat dari pada Syansuddin Saoatrani yang sesat
naka berbahaslah nareka itu dengan kani beberapa .taari di hadapan haditat Sultan jang terlebih salih pada nasanya;
didiankan Allah Ta'ala kiranja akan dia pada sana tengah syurga,ia itu naulana as-Sultan Iskandar Thani Alauddin -
Mughayat '*yah yang bergelar Marhun Parus-Salan,ialah yang
nendirikan agana Allah dengan keteguhan yang anat ajaib»•
».•* serta kata aareka itu bahwasanya Allah Ta'ala drri
kacu dan wujud kacu dan dirinya dan wujudnya* . . . . . . .
Maka kukarang pada cecbatalkan kata C areka itu yang.
sia-sia dengan eapunya bayang—bayang dan kukata akan
oereka itu bahwasanya kaou oehdakwa diri kacu ketuhanan -
seperti dakwa Piraun katanya akulah tuhan kacu yang naha tinggi tetapi bahasanya adalah kacu kauc yang kafir . Maka
casaclah cuka oareka itu serta di tundukkan nareka itulah
kepalanya dan adalah aareka itu cuysyrlk , . . , oaka cecberi
fatwalah segala Islac akan kufur cereka itu dan akan oenbunuh
dia dan setengah dari pada aareka itu nurtad pula.
Ia yang taubat itu kecbali ia pada i'tikadnya yang dahulu
jua. aaka terbunuhlah segala tentera kauc yang kafir
,. . " ' • L Putri
Setelah cangkatnya sultan Iskandar Tani (l64l) yang
di gantikan sebagai r a j a oleh pernaisuri,Iskandar Muda,Sulthanah Tajul Alac Safiatuddin Syah,Nuruddin Ar-Raniri casih lagi bertindak sebagai ulana dan pujangga istana.Tetapi pada tahuft^dAa7" telah berangkat^èe G-ujarat,
Peristiwa kejac yang diakibatkan oleh Nuruddin casih laca sesudah itu cengganggu pikiran casyarakat Aceh ,
Syaikh Abdur-Rauf Singkil (Syiah Kuala).eenjadi pujangga
istana selaca pecerintahan Tajul Alac Safiatuddin Syah .•
Karya2nya ialah:Mir'atul’Tullab,'Ucdatal~x\ïnhtagin,Ki
faya al-Muhajin, Hujjah Balighah 'ala Juca'at. al-Mukhasacah*
Abdur-Rauf yang ditanyakan cengenai peristiwa kejac akibat perten tangan antara Nuruddin Ar-Raniri dengan pengikut2
Haozah Pansuri dan Syansuddin Pasai telah cengirin surat kepada gurunya Ibrahic ibn Hassan al-Kurani-(Molla Ibrahic) di Kadinah cenanyakan ; " Seorang utlaca -
yang datang dari atas angin cenuduh seorang ahli sufi -
yang nenganut tarikat wujudiyyah sebagai kafir dan perkara itu dibawa kehadapan sultan . Ulaca tersebut nenuntut -
supaya ahlI sufi tadI bertaubat,tetapi ia enggan dan mengatakan bagaicana ia harus taubat kalau perkataannya tidak -dipahaci. Tetapi ucapannya tidak didengar dan akhirnya sultan cenitahkan agar ahli sufi itu dibunuh bersana nareka -
yang nenyetujuinya. Mareka kenudian dilecpar .kedalac api .
Mengapakah ahli sufi itu di bakar ?"
Molla Ibrahic nenjawab kepada nuridnya,Abdur-Rauf,,
bahwa sangat berbahaya nenyatakan sesuatu kepada orang
yang tidak dapat Denahani. TJcapan ahli sufi bahwa ia tidak
dipahani itu neabuktikan bahwa yang diaaksudkannya itu ialah suatu ayat yang sesuai dengan pahan laóa,tetapi ia tidak sanggup nenguraikahnya kepada ulana yang nengkafmrkannya itu.Hukuman mati yang dijatuhkan keatas ahli sufii itu nyata sekali salah . Seoua tuduhan yang dibuat itu didasarkan kepada arti lahir dari ucapan2 kaun wujudyyah,sedangkan sangat nyata ia tidak boleh diartikan serapa itu 0
Sabda Nabi ucapan orang Islan itu tidak boleh dianggap buruk
jikalau nasih ada lagi ialah urahuk ncngertikannya dengan baik.
Dengan i n i tannatlah satu episode yang penting dan -
aenarik dalan sejarah Aceh.
oOo



PANITIA PUSAT .
PEKAN KEBUDAAN ATJEH' KE-II
(The 2nd.At-jeh Cultural Pestival)
HARI DEPAN KEBUDAJAAN ATJEH
o
1
e
fa
BANDINGAN
PAPA SEMINAR KEBUDAJAAN
DALAM RANGKA PKA - I I PAN DIES
NATALIS KE-XI UIrIVPRSITAS SJIAH KUALA
21 s/d P5 Agvetus 1972
d
i
BANDA ATJEH

HARI DEPAN KEBUDAJAAN ATJEH
oleh;Prs,I.Sjansuddin



I.PENGANTAR.
Masaalah kebudajaan dewasa ini merupakan nasaalah jang unik dibitjarakan-. Karena nasaalah kebudajaan nenjan£kut salah satu faktor pendorong dan penghanbat bagi penbangunan. Djadi kebudajaan ki , bukanlah tenpat berpidjaknja suatu ilnu untuk kepentingan a&adenis tetapi djuga nenjangkut persoalan kehidupan nasjarakat setjara keseluruhan.
Oleh karena itu ada baiknja saja nenperkuat kedua isi prasaran terdahulu biarpun apa jjang saja kenukakan berbeda dalam redaksinja.Kita senua tentu setudju bahwa kebudajaan adalah seluruh tradisisosial( Lowie : Introduction to Cultural Antropology,New Jork,1940).
Berdasarkan definisi pendek itu djika kita rangkaikan dengan nasjarakat Atjeh,maka kebudajaan Atjeh adalah seluruh tradisi dari nasjarakat Atjeh sendiri; Dengan kata lain Kebudajaan At^h adalah seluruh tjara - tjara hidup nasjarakat Atjeh./zanan pra sedjarah hinggp sekarang inI Karena itu Kebudajaan Atjeh neliputi tjara hidup nasjarakat Atjeh seluruh wilajeh Propinsi Daerah Xetincwa Atjeh.
Tetapi kalau kita kenbali kepada analisa hukun adat
naka Propinsi Atjeh sekarang ini neliputi dua daerah hukun Adat,jang berarti dua daerah kebudajaan pula,sesuai dengan
penbahagian daerah hukun adat,jang dikunpulkan oleh Van-
Vollenhoven dalan bukunja: Het Adatrecht van Nederlandshe-Indie .
Daerah Hukum Adat ternaksud ialaih daerah hukun adat
Atjeh dan daerah hukun adat Gajo-Ala(3. Memang pada nulanja kedua daerah hukun adat'ini berbedn ,tetapi kenudian karena latar bclakang historis dan politps nendjadi laun-
terdapat persanaan-persanaan. Lebih-lebih ketika diletakkannja daerah ini sebagai salah stu kabupaten didaerah A"tdehjja itu setelah Proklanasi Kenerdekaan 1945 s persanaannja lebih tanpak lagi . Perbedaan terletak dalan variasi njasadja.


I I . HARI DEPAN KEBUDAJAAN ATJEH. .

HARI DEPAN KEBUDAJAAN ATJEH.
Menurut hernat kani berbitjara nengenai Kebudajaan-Atjeh berarti bebbitjara tentang isi Kebudajaan jang terletak setjara geografie didalan daerah Propinsi Atjeh,tanpa adanja perbedaan-perbedaan pandahgan di dalannja .Kenudian dari sinilah kita dapat melihat hari depan kebudajaan Atjeh .
Setiap berbitjara nengenai nasaalah kebudajaan,ternasuk nasaalah Kebudajaan Atjeh,naka titifc tolak haruslah didasarkan
pada persoalan bahwa kebudajaan Atjeh seperti kebudajaan lain nanapun djuga nenpunjai culturaluniversal .
Para ahli antropologi nerunuskan culturaluniversal setiap kebudajaan nenpunjai minimal' 7 unsur kebudajaan; Ketudjuhunsur
ini setjara sistenatis terdiri dari ;

l. Sistin peralatan dan perlengkapan hidup,
2. sistin nata pentjaharian hidup,
3. sistin kenasjarakatia$,
4. bahasa,
5. kesenian,
6 .   sistin pengetalman,
7 .   sistin religi .

Sebahagian dari unsu^-unsur , ini telah dikenukakan oleh Prof.H. Abu Bakar Atjeh dalan prasarann jaRp Tetapi pada kenjataan ununnja setiap berbitjara tentang kebudajaan naka selalu jang dianggap kebudajaan adalah kesenian.
Kesenian Atjeh sebenarnja adalah merupakan suatu unsur sadja dari kebudajaan Atjeh.
Orang tidak nehjinggung nasaalah sistin peralatan ,Sistin nata pentjaharian hidup dan sistin pengetahuan dalan hubungan dengan unsur kebudajaan,tetapi selalu dilihat legpas dan se-ekan2 tidak ada hubungannja dengan kebudajaan sana sekali .
Bahan-bahan nengenai ini belun benjak di sclidiki dan ini merupakan tantangan bagi kita senua pada nasa-nasa
jang dkan datang. Dengan nelihat unsur-unsur kebudajaan setjara keseluruhan dari kebudajaan Atjeh,baru kita dapat
membajangkan bagainana sebenarnja Hari Depan Kebudajaan Atjeh itu .
Unsur--unsur Kebudajaan Atjeh tersebut dia tas itulah
jang menbentuk sikap mental — ^ jarakat Atjeh dalan kon3taknja dengan dunia luar . Pad^ nasa ini kebudajaan Atjeh -
adalah kebudajaensem.ua abad untuk suatuzinan. Kebudajaan-
Atjeh sekarang ini senafas dengan djiwa Kebudajaan Nasional dan diakui berdasarkan'pendjelasan UUP»1945,Bab III ,pasai 32.
Kebudajaan Atjeh itu tidak boleh nelepaskan diri dari pangaruh dan kontak kebudajaan luar,karena kontak tersebut nenperkaja kebudajaan Atjeh sebagai bagian dari pada
Kebudajaan Nasional Indonesia,sedjauh tidak bertentang
ancfengan prinsip-prinsip agana Islan jang dianut oleh seluruh rakjat Atjeh,
Kebudajaan Atjeh jang akan datang adalah kebudajaan jang terbuka terhadap unsur-unsur leibuda jaanjang positif dan nenberikan pengaruh bagi kehidupan rakjat banjak .
Karenaüu meningkatkan kebudajaan berarti sekaligus menberi p&ngaruh terhadap sikap nental nasjarakat sesuai dengan
tuntutan penbangunan. /_apaDüa
Suatu nasjarakat dianggap noderng-etiao nasjarakat Atjeh,
sebagai bagian dari nasjarakat Indonesia jang sedang
nenbangun, setidak-tidaknja nenpunjai sLkap nental seperti
diharapkan ialah:
- kedjudjuran
- effisiensi
- bertepatan waktu (punctuality)
- keteraturan (cnderliness)
- kenadjuan
- sifat hernat
- rasionil dalan pikiran dan nenganbil keputusan,
- kemanpuan untuk nenangguhkan konsumsi (Prof.Pr.Muchtar Kusunaatnadja dalan Hukun dan Penbangunan Nasional).

Bfesjarakat Atjeh nasa ini seperti nasjarakat2 lainnja
di Indonesia terletak pada tangga. paling bawah dalan kehidupan dunia modern. Untuk itu di perlukan suatu tjara berpikiran dian sikap hidup (kebudajaan). Tanpa sikap dan tjara berpikir jang berobah,naka pengenalan terhadap lenbaga Modern dalam kehidupan jang akan datang tidak akan berhasil T
Ini "terarti pula bahwa nasjarakat Atjeh tetap tingggal pada tingkatan paling rendah daripada perkenbangan masjarakat umunnja. Untuk-memeijkan masaaalah ini maka setiap penduduk harus nendapat pengetahuan jang lajak dan terarah,serta penerangan-penerangan jang intensifv
Tanpa peruhahan ini naka penerintah akan tertarik kehelakang nengikuti pola - pola kehidupap jang telah di hajati
sedjak dahulu jaitu sikap hidup nasjarakat agrarische tradisionil , -